
Frankie bangun untuk bekerja sekitar tengah malam. Dan bangun untuk bekerja kembali jam 1.30 pagi. Dan jam 4 pagi. Dan juga saat subuh. Malam ini terhitung sepi untuk Frankie. Di malam yang sibuk ia bisa bangun dan bekerja tujuh kali.
Frankie sudah melakukan pekerjaan ini setiap malam selama empat tahun terakhir. Ia bekerja di jermal, sebuah bangunan kayu yang terletak sekitar 8 kilometer lepas pantai Sumatera Utara. Ia mengaku berusia 20 tahun, tapi mungkin ia lebih muda dari itu. Undang-undang di Indonesia melarang anak di bawah usia 18 melakukan pekerjaan yang demikian keras dan berbahaya.
Ia salah satu dari sejumlah anak dan pemuda tak dikenal yang bekerja di sekitar 150 panggung lepas pantai seperti itu – yang disebut jermal – di Selat Malaka. Setiap jermal serupa dengan anjungan minyak lepas pantai mini, terdiri dari balok dan papan kayu yang diikat jadi satu dan sebuah gubuk terbuat dari besi di atasnya.
Serangkaian jaring mengarahkan ikan menuju jermal. Ikanikan itu akhirnya ditangkap dalam sebuah jaring besar di bawah jermal. Setiap beberapa jam, Frankie dan tujuh rekan kerjanya bekerja keras memutar roda kayu kasar untuk menarik jaring ke atas. Ikan-ikan pun menggeliatgeliat sekarat saat ditumpahkan di atas geladak.
Para pekerja memisahkan bagian terpenting tangkapan mereka – ikan-ikan kecil serupa ikan bilis. Ikan-ikan ini direbus, digarami, lalu dikeringkan di atas geladak. Tak ada hari libur, dan jadual kerja minimum di atas jermal adalah tiga bulan. Sering para pekerja ditahan di jermal sampai ada penggantinya.
Aku tak dapat kerja di daratan. Kalau aku bisa dapat kerja di daratan tentu aku tak di sini.
–Frankie, bocah nelayan
Frankie bekerja di sini agar adik-adiknya tak mengalami nasib sama dengan dirinya. Upahnya, sekitar Rp 250.000 sebulan, dipakai untuk membayar uang sekolah adik-adiknya.
Anak-anak ini bekerja di jermal untuk bebas dari kemiskinan, rasa jemu dan masalah keluarga. Tradisi setempat juga mendorong banyak keluarga untuk mengirim putra-putra mereka yang berusia remaja untuk pergi merantau agar mereka bisa tumbuh dewasa.
Aku benar-benar rindu keluargaku. Aku rindu ayahku dan aku rindu ibuku. Aku rindu mereka semua
–Harahap, pekerja muda yang lain di jermal
Saat mereka bekerja di jermal, kebanyakan dari mereka menderita karena hidup terkucil jauh dari mana-mana bersama kelompok kecil pekerja selama berbulan-bulan. Teman Frankie, Harahap mengungkapkan rasa rindu akan keluarganya di rumah, yang amat terasa saat air laut surut, ketika jermal sedang tenang.
Banyak desas-desus mengenai adanya penindasan dan penyiksaan di atas jermal, termasuk pelecehan seksual. Kebakaran, pencurian dan badai menjadi ancaman yang konstan. Banyak jermal mulai rubuh, dan kebanyakan tidak dilengkapi peralatan keamanan. Tak ada sekoci, mercon tanda bahaya, jaket pelampung atau ban pelampung. Yang dimiliki pekerja jermal hanyalah radio komunikasi.
Budiman, 17, pernah jatuh dari geladak jermal awal tahun ini. Saat ia jatuh, kakinya menghantam tiang jermal. Ia sangat kesakitan dan hampir tenggelam. Anak-anak yang lain menolongnya ke luar dari air. Ia harus menunggu 2 hari sebelum akhirnya bisa dibawa ke darat untuk operasi kakinya, karena radio darurat di jermal dirampas perampok berparang sehari sebelum kecelakaan yang dialaminya.
Ia tertawa selagi menceritakan kisahnya, sambil duduk di kursi plastik di rumahnya, di kampung halamannya. Ia sekarang belajar beternak bebek-bebek yang gegap gempita, yang menghuni kurungan bambu di luar rumah keluarganya. Pelatihan yang diikutinya ini bagian dari proyek Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang menyelenggarakan kerja alternatif bagi para pekerja jermal.
Sri Eni Purnamawati, koordinator proyek ILO tersebut, mengatakan, gagasan proyek ini adalah agar anak-anak pekerja jermal – yang kebanyakan terlalu miskin untuk bisa meneruskan sekolah – mendapatkan rangsangan untuk pengembangan dirinya, seperti layaknya remaja. Proyek ini juga bisa membantu keluarga mereka yang tentunya akan kehilangan pendapatan jika anak-anak mereka berhenti bekerja di jermal.
Eni dan suaminya, Taufan Damanik, yang bekerja di sebuah LSM, secara teratur mengunjungi jermal untuk melihat apakah ada pekerja di bawah umur di sana. Jika ada, mereka akan susah payah melacak anggota keluarga si anak di daratan. Sering keluarga anak-anak itu tak tahu kondisi di jermal dan terkejut saat diberitahu. Selanjutnya Eni dan Taufan, biasanya bersama salah seorang anggota keluarga itu, kembali ke jermal untuk menjemput si anak pulang.
Sejak akhir rezim Suharto tiga tahun lalu, pekerjaan mereka bertambah mudah. Undangundang telah diubah, melarang adanya pekerja di bawah umur di jermal. Pihak yang berwenang juga mulai memberikan dukungan pada usaha mempekerjakan anak di bawah umur di jermal.
Saya bergabung dengan Eni dan Taufan di atas perahu milik Angkatan Laut saat mereka berangkat untuk menyelamatkan sepasang kakak-beradik. Paman kedua anak itu merokok dengan gugupnya. Kita semua berlayar selama sekitar 90 menit menuju sebuah jermal yang bobrok.
Seorang bocah kecil menatap kami dengan campuran perasaan semangat dan takut. Dialah Andi, sang adik di antara kedua anak tersebut. Ia berusia 14 tahun tapi badannya kecil untuk anak seusia itu.
Kami pun terkejut saat empat anak remaja lain di jermal itu berkata mereka juga ingin pergi. Setelah berunding, sang mandor akhirnya setuju melepaskan mereka semua. Tentu saja kehadiran Angkatan Laut juga mendorong keputusannya itu.
Perahu kami pun berlayar menuju daratan, dan keenam anak itu tersenyum di haluan, selagi air garam menciprati wajah-wajah mereka.
ECCO Films Indonesia This film is produced with the support of the Netherlands Film Fund, World Cinema Fund, Vision Sud Est and the Hubert Bals Fund of the International Film Festival Rotterdam.
In co-production with Motel Films, Rudy Tjio, Atika Makarim, Rayya Makarim, Raam Punjabi, Wim Brouwer and Peter van der Lugt.