Catatan Produksi

oleh Ravi Bharwani

Asal Usul

“Gila” adalah kata pertama yang muncul di benak saya ketika pertama kali membaca soal jermal di salah satu surat kabar nasional beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu juga, saya memutuskan bahwa suatu hari, saya akan membuat film di lokasi ini, walaupun pada saat itu belum ada ide sama sekali mengenai cerita apa dan kesulitan teknis seperti apa yang akan saya jumpai di lokasi tersebut,; atau produser ‘gila’ mana yang bersedia memproduksi film tersebut. Beberapa tahun setelah itu, ketika saya mulai bergumul dengan penulisan cerita, saya baru menyadari bahwa ketertarikan saya pada lokasi ini bukan sebatas bentuk estetika fisik jermal semata tetapi lebih kepada keberadaannya yang terisolasi dan teralienasi (berdiri sendiri di tengah lautan luas) yang sebenarnya sudah menjadi ketertarikan saya selama ini.

Awalnya saya berusaha untuk menulis sendiri film ini, tetapi kemudian saya bergabung dalam workshop pengembangan naskah yang dipimpin oleh Orlow Seunke, Orlow tertarik unuk membantu dalam penulisan sekaligus menjadi produser dari film ini. Untuk itu dia membentuk tim penulisan naskah yang terdiri dari Rayya Makarim, Orlow Seunke dan saya sendiri. Pada dasarnya kami ingin membuat sebuah film yang menyentuh orang banyak, film yang believable, tidak membosankan... dan oh, satu hal lagi.... sebuah film yang minim dialog (ini adalah permintaan khusus saya kepada Rayya). Selama proses penulisan, Rayya bukan hanya harus mengakomodir tuntutan tersebut (dialog dengan panjang delapan kata saja sudah terlalu panjang bagi saya), tetapi dia juga harus menghadapi ke’gila’an Orlow yang amat mementingkan detil. Diskusi mengenai cerita dan para tokoh bisa berlangsung berjam-jam. Satu sesi bisa berlanjut sampai dengan tujuh atau delapan jam, hanya untuk membicarakan mengenai bagaimana sang tokoh utama (Johar) bereaksi ketika bertemu dengan anaknya pertama kali. Sesi perdebatan kebanyakan berlangsung sopan layaknya para bangsawan Inggris yang sedang minum teh bersama, tetapi bisa juga berkembang menyerupai perdebatan para preman setelah pertandingan sepakbola.

Pendanaan

Sebagian kecil dana didapat dari beberapa investor dalam negeri dan sebagian besar dari penerimaan program bantuan dana yang diselenggarakan oleh festival film di luar negeri (seperti Hubert Bals Fund dan Hubert Bals Fund Plus dari International Film fFestival Rotterdam; dan World Cinema Fund dari Berlin International Film Festival). Kami juga mendapatkan penghargaan berupa uang, dalam kompetisi Open Doors di Locarno International Film Festival, Swiss tahun 2006.

Casting

Penciptaan karakter Ahab merupakan cerita yang menarik. Ketika menulis cerita untuk film ini, kami merasa bahwa Jaya butuh seorang kawan yang bisa membantunya untuk beradaptasi di lingkungan hidupnya yang baru. Tetapi kami juga berpendapat bahwa karakter ini tidak boleh terlalu dominan dan proses adaptasinya tidak bisa dibuat lancar. Kami masih menginginkan Jaya untuk berjuang untuk menyesuaikan dirinya, walaupun ia punya kawan, maka karakter kawan ini haruslah seseorang dengan kepribadian aneh. Rayya menamainya ‘Ahab’. Ahab tidak ‘sinting’, tapi dia juga tidak sepenuhnya waras. Ia tidak bodoh, walau juga tidak terlalu cerdas. Cara jalannya aneh, cara bicaranya aneh, dan yang paling aneh adalah dia berpikiran bahwa dirinya adalah seekor paus.. Ironisnya, sang pemeran tokoh Ahab ini juga seorang individu yang unik. Anak itu bernama ‘Ribut’ (dan anaknya memang ribut sekali), tapi lebih dikenal dengan nama panggilan ‘Black’. Sebenarnya dia lebih suka dipanggil ‘Mr. Black’, tetapi berhubung sudah ada anak lain yang dipanggil Mr. Black, terpaksa dia harus puas dengan nama panggilannya itu. Di satu sisi, Ribut alias Black alias Ahab sering membuat kesal karena pertanyaan dan komentarkomentarnya yang tidak ada habis-habisnya, tetapi di sisi lain, dia adalah seorang pemeran yang paling ringan tangan untuk membantu para kru kapan saja dibutuhkan.

Mencari para pemeran anak-anak pekerja jermal yang believable adalah tugas yang sangat melelahkan. Untuk itu kami memutuskan untuk mengumpulkan pada pemeran dari anak-anak yang memang datang dan tinggal di daerah tersebut. Bowie, dari casting agency, harus dengan sabar keluar masuk sekolah, kampung, RT, gang-gang sempit, berbagai jermal, asrama dan pesantren di daerah Medan dan sekitarnya. Kami tidak bisa menyianyiakan waktu. Bahkan di saat kami istirahat makan siang, kami tetap membuka mata kami lebar-lebar karena mungkin saja calon Jaya, Gion atau Topan lewat di depan mata kami.

Bagi saya, yang paling berkesan adalah ketika kami menemukan anak untuk memerankan tokoh ‘Topan’. Waktu itu adalah hari terakhir saya di Medan sebelum harus kembali ke Jakarta esok harinya. Hari itu adalah hari terakhir sekolah, kebanyakan sudah bersiap-siap untuk liburan, dan kami belum juga menemukan Topan yang ‘pas’. Kemudian ada yang memberitahu bahwa ada satu pesantren yang belum kami kunjungi, 70 km dari Medan. Berhubung kami sudah kehabisan pilihan di wilayah setempat, maka kami putuskan untuk pergi ke sana. Ketika tiba di sana, kami mengumpulkan anak-anak itu dalam beberapa kelompok dan mulai dengan proses audisi. Setelah melihat beberapa kelompok, saya sudah hampir putus asa. Baru pada kelompok terakhir saya memperhatikan ada satu anak yang kurus kecil, bermata sipit, kulit kuning langsat dan berkepala plontos. Dengan sangat mengesankan, anak itu berimprovisasi sebagai penjual obat. Dengan wajah yang sungguh meyakinkan dan teriakan yang lantang, dia berhasil meyakinkan saya untuk membeli semua dagangannya. Saya kembali ke Jakarta dengan perasaan lega, karena akhirnya kami telah berhasil mengumpulkan seluruh pemeran untuk film kami, Jermal.

Cuaca Yang Tidak Bisa Diduga

Selama masa produksi, jadwal syuting tidak hanya ditentukan oleh tim produksi dan penyutradaraan, tapi juga oleh tim ‘alam’. Walaupun tanpa bayaran, mereka selalu siap membantu dan memberikan masukan dalam menyusun jadwal. Tim ini adalah tim yang keras kepala dan sering berubah pikiran, yang berarti kita tidak pernah bisa tahu dengan pasti, kapan kita bisa berangkat ke lokasi atau kembali ke daratan. Mereka menyatakan bahwa kami harus menuruti nasihatnya, walaupun mereka sering juga salah tafsir.

Keseluruhan gambar dalam film ini diambil di atas jermal yang sebenarnya. Kami tidak ingin ‘menipu’ para penonton dengan mengambil adegan dalam ruangan di dalam set buatan. Menurut kami, emosi yang diekspresikan oleh para actor akan lebih otentik jika mereka benar-benar ditaruh di lokasi yang sebenarnya; untuk juga merasakan isolasi dan alienasi dari bangunan jermal itu sendiri. Jadi, tiap hari, selama lebih dari satu bulan (selain di hari-hari istirahat dan force majeur), sekitar tigapuluh orang dari kru dan pemeran harus berjalan 10 menit dari hotel ke pesisir pantai untuk menaiki perahu selama 40 menit menuju lokasi syuting. Tetapi, ketika air pasang sedang surut, perahu kami tidak bisa merapat ke tepi, jadi kami harus berjalan lebih jauh, sekitar 20 menit, membawa segala jenis peralatan film yang berat, melewati lumpur, untuk menaiki perahu. Karena jumlah kru kami yang sedikit, kadang-kadang beberapa orang dari kami harus bolak balik beberapa kali untuk mengangkut peralatan yang harus dibawa. Hal ini sangat menguras tenaga dan waktu.

Sebenarnya tim produksi sudah sempat melakukan berbagai macam riset mengenai pasang surut dan prakiraan cuaca, tetapi cuaca bisa berubah-ubah sewaktu-waktu tanpa peringatan, dan tim ‘alam’... lebih tidak dapat diduga lagi. Hasilnya, tidak pernah bisa ada kepastian, dan kalaupun ada ‘kepastian’, hal tersebut bisa berubah tiap setengah jam. Suatu ketika, saya pernah terdampar di tengah laut sekitar empat jam, karena perahu kami kandas. Sang pemilik perahu hanya bisa meminta maaf, mulai merokok dan menunggu sampai air pasang kembali. Kejadian serupa pernah juga terjadi pada saat saya mencari lokasi, di mana saya memilih untuk berjalan 45 menit dari perahu menuju pesisir pantai. Dengan telanjang kaki di tengah kegelapan, saya tidak pernah tahu hal mengerikan apa yang ada di dalam lumpur, yang mungkin akan saya injak.

Untungnya, selama periode syuting, kami diberkahi dengan cuaca yang cukup baik. Selain saat hujan turun selama dua hari, yang mengakibatkan ombak besar dan membuat kami harus tinggal di daratan. Tim produksi yang khawatir tentang jadwal produksi mencoba untuk tetap melaut. Mereka kembali pucat pasi dan basah kuyup, memperjelas bahwa kami tidak mungkin ke lokasi hari itu. Perahu yang mereka tumpangi hampir tegak lurus diterjang ombak yang ganas. Maka kami harus menunggu dua hari sampai badai usai. Yang lebih parah lagi, salah satu tiang penyangga jermal retak, tak jelas apakah karena badai, atau karena bobot kru kami yang tak sanggup ditopangnya. Maka kami harus kembali menyusun jadwal... menghitung-hitung hari produksi lagi... membuat call sheet baru... lagi.

Mistik

Kejadian-kejadian aneh terjadi sekitar bulan purnama. Selama tiga hari, hotel kami diserang ribuan serangga yang datang di malam hari, terpanggil oleh cahaya, dan memiliki bau yang sangat menyengat. Kumpulan tamu tak diundang ini sama sekali tidak menyenangkan bagi kami yang sudah lelah syuting seharian. Untuk kembali ke kamar masing-masing saja, kami harus berjuang melewati ribuan serangga yang berkumpul di dekat lampu, tepat di depan pintu kamar kami. Ketika kami mengeluh kepada pihak hotel, mereka yang sudah terbiasa dengan kejadian bulanan ini, hanya bisa menanggulanginya dengan cara mematikan semua lampu di sekitar kamar kami. Jadi, selama tiga hari itu kami kembali ke hotel, meraba-raba dalam kegelapan dan berhati-hati berjalan menuju kamar kami, melewati bau-bauan yang datang dari serangga-serangga yang masa hidupnya tidak panjang itu. Kita tidak dapat melakukan diskusi di luar, kami hanya bisa mempersiapkan diri untuk syuting esok hari di dalam kamar masing-masing. Suasana hotel saat itu mungkin saja menjadi inspirasi bagi Alfred Hitchcock untuk membuat sekuel dari filmnya “The Birds”.

Kejadian aneh lainnya yang terjadi pada bulan purnama terjadi ketika kami sedang istirahat makan malam di jermal. Ahab alias Black alias Ribut tiba-tiba demam dan menggigil, maka kami memutuskan untuk memulangkannya ke daratan. Beberapa orang kru membantunya masuk ke dalam keranjang ikan besar untuk menurunkan dia ke perahu. Tiba-tiba Ahab mulai meracau, matanya membelalak liar dan membuat gerakangerakan aneh. Mulanya kami pikir ini hanya salah satu cara Ahab menarik perhatian kami, tetapi kemudian menjadi jelas bahwa ia ‘kemasukan’. Beberapa orang kru berusaha menyadarkan Ahab, tetapi Ahab sudah berubah. Dia mengepalkan tangannya, jari-jarinya menjadi kaku dan membentuk cakar. Dia bertumpu pada kedua tangan dan kakinya, mencengkram jermal, bergerak perlahan bak seekor macan yang sedang mengamati mangsanya. Para kru menahan tangan dan kakinya supaya dia tidak melukai dirinya ataupun anggota kru yang lain. Ketika ditanya siapa dirinya, dia menjawab “Mayong”. Menurut para pekerja jermal, kata itu mempunyai dua makna, yaitu “penunggu laut” atau “macan muda”. Kedua arti kata tersebut sepertinya cocok untuk Ahab saat itu. Kepala pekerja di jermal kemudian memberitahu kami bahwa jermal ini memang ada penunggunya, tetapi mereka tidak pernah diganggu. Seorang anggota kru yang mengaku bisa ‘melihat’ roh berkata bahwa ada 3 roh penunggu jermal itu, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dia juga menambahkan bahwa ketika mereka menolong Ahab masuk ke dalam keranjang, si roh anak menarik rambutnya dan lari ke arah ujung jermal yang lain, dan juga bahwa si ayah marah karena keluarganya tidak diajak ikut makan bersama kami. Si ayah memasuki “tubuh kosong” (Ahab) yang kemudian menjadi kerasukan. Untungnya, aktor utama kami, Didi Petet dan beberapa anggota kru yang mengerti mengenai hal-hal gaib ini bisa membantu. Dalam waktu satu jam, Ahab kembali menjadi dirinya lagi, tanpa satu ingatan pun mengenai apa yang telah terjadi. Kami memutuskan untuk berhenti syuting lebih awal.

Keesokan harinya cerita berlanjut. Ada dua anak yang kerasukan: Ahab dan Rudy Hartono alias Mr. Black alias Franky. Keduanya merayap di atas jermal dengan tubuh melengkung, siap untuk bertarung. Tidak ada yang tahu pasti apakah itu merupakan pertarungan antara dua orang “Black”, dua roh, atau dua tokoh dalam film. Yang pasti kami kehilangan dua malam berturut-turut akibat insiden ini, tapi setidaknya pengalaman itu sangat berkesan bagi kami sehingga saya ingin mencantumkannya di dalam production notes ini.

Shooting Style

Satu hal yang selalu kami usahakan dalam mengatur jadwal syuting adalah untuk mengambil gambar adegan secara kronologis. Hal ini kami lakukan untuk membantu para aktor untuk mempertahankan pengembangan karakter mereka. Kami juga mengambil gambar adegan secara utuh, dari awal sampai akhir tanpa pemotongan di tengah adegan, untuk mendapatkan penampilan terbaik dari para aktor. Misalnya, ketika Didi Petet harus melompat dari jermal, kami mengambil adegan tanpa interupsi. Sama halnya ketika Topan harus melompat ke laut. Tanpa stuntman, semuanya asli. Atau sebelum mengambil adegan Jaya yang telanjang, Rayya harus membujuk dan meyakinkan Iqbal yang menangis, selama satu jam. Setelah diyakinkan kami mengambil gambar adegan tersebut secara utuh, lagi-lagi tanpa melakukan pemotongan di tengah adegan. Cara ini memang memakan waktu, tetapi dengan begitu kami bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, karena emosi yang berusaha disampaikan oleh para aktor dapat disajikan secara utuh, tanpa gangguan; menjadikan adegan tesebut believable dan intens.

Pesan Dan Harapan

Bagi saya, syuting Jermal adalah syuting yang paling menantang yang pernah saya lakukan. Para kru sangat kreatif dan alami dalam menghadapi halangan-halangan. Secara keseluruhan, saya berharap para penonton bisa menikmati cerita yang sederhana tetapi universal, mengenai hubungan seorang ayah dan anaknya, di atas sebuah panggung tempat pemancingan ikan, di tengah lautan yang luas.

Jakarta, 10 Desember 2008

ECCO Films Indonesia This film is produced with the support of the Netherlands Film Fund, World Cinema Fund, Vision Sud Est and the Hubert Bals Fund of the International Film Festival Rotterdam.
In co-production with Motel Films, Rudy Tjio, Atika Makarim, Rayya Makarim, Raam Punjabi, Wim Brouwer and Peter van der Lugt.