Pernyataan Sutradara

Film ini mencoba menggambarkan betapa sakitnya pergulatan orang-orang yang ingin diterima sesamanya. Dengan menggunakan garis cerita sederhana, saya ingin melukiskan secara rinci perasaan orang-orang yang menjalani pengalaman-pengalaman tertentu: rasa kesepian, perjuangan untuk mengorbankan rasa bangga, kehormatan dan harga diri, rasa senang saat memperoleh sedikit saja perhatian atau kasih sayang dari orang lain, perasaan saat mengalami penolakan, kecemburuan, prasangka, rasa bersalah, rasa malu dan benci. Pada dasarnya inilah kisah perjuangan hidup dan kebutuhan diakui dan diterima oleh orang lain.

Konsep Film

Selain dua orang tokoh dewasa di film ini (Johar and Bandi), semua anak-anak pemain bukanlah pemain profesional, melainkan anak-anak yang dipilih dari komunitas lokal. Berhubung ceritanya mengenai perkembangan emosional antara ayah dan anak yang lama terpisah, kami memutuskan gerak kamera haruslah sederhana dan selalu dekat dengan para aktor. Ini akan menciptakan suasana intim yang kontras dengan dinginnya keterasingan lokasi jermal. Kami berupaya mempertahankan rasa keterkucilan dan rasa dingin secara konstan melalui sinematografi dengan memperlihatkan saat-saat akrab yang ditangkap dari dekat, disandingkan dengan shot-shot lebar untuk menekankan rasa sepi para tokoh.

Film ini minim dialog karena para tokoh utama terbebani berbagai konflik batin mereka. Kami tidak ingin mereka mengungkapkan perasaan mereka lewat bahasa, kami arahkan mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka lewat gerak tubuh yang tak terlalu kentara. Ketakmampuan para tokoh mengungkapkan perasaan ini mencuat lewat katakata yang tak terselesaikan atau adanya jeda-jeda canggung di antara dialog. Ini membantu membangun ketegangan yang semakin nyata dan intensitas hubungan si ayah dan anak. Musik hanya sebentar-sebentar muncul agar intensitas emosional itu tak terganggu. Suara-suara alami seperti ombak, burung dan lain-lain suara dari kondisi cuaca yang ada digunakan untuk menyuarakan konteks dramatik.

Karena jermal adalah latar sosial sungguhan, lokasi ini menyuguhkan kesan otentik dan dapat diterima sebagai kenyataan sehari-hari. Bangunan jermal yang padat dan terkungkung, tertanam dalam di tengah-tengah laut luas melambangkan kisah film ini: seorang laki-laki yang terperangkap dalam hidupnya, terasing secara fisik dan mental, namun dipaksa untuk membuka dirinya akibat pertemuannya dengan anaknya yang belum pernah dilihatnya. Pertemuan itu membuatnya sadar bahwa kehidupan, seperti halnya laut yang tak bisa ditebak, dan kebenaran, seperti halnya masa lalunya, tak bisa ditinggalkan begitu saja.

ECCO Films Indonesia This film is produced with the support of the Netherlands Film Fund, World Cinema Fund, Vision Sud Est and the Hubert Bals Fund of the International Film Festival Rotterdam.
In co-production with Motel Films, Rudy Tjio, Atika Makarim, Rayya Makarim, Raam Punjabi, Wim Brouwer and Peter van der Lugt.